Contact Us

Mengganti plastik dengan kulit jagung

26 Agustus 2010
GREEN BUSINESS
[size=large]Mengganti plastik dengan kulit jagung[/size]


[size=medium]Kulit jagung juga bisa menjadi bahan baku pengganti plastik. Mohamad Fasiol menggunakannya sebagai bahan baku dalam pembuatan gelas dan botol. Selain kualitasnya tak kalah dengan bahan plastik, gelas atau botol bekas itu bisa diserap tanah dan menjadi pupuk.

Permintaan gelas plastik terus meningkat dari tahun ke tahun. Maklum, banyak produk barang-barang konsumsi yang menggunakan plastik sebagai bungkusnya.

Tengok saja, setiap gerai dari jenis booth hingga restoran yang menyediakan minuman soda, teh, kopi, maupun sirup, memakai gelas plastik sebagai wadah.

Namun, tanpa disadari, proses pembuatan gelas dari plastik ini bisa menghasilkan limbah berbahaya. Begitu juga sampah yang dihasilkan dari gelas plastik lantaran tak bisa didaur ulang tanah.

Asal tahu saja, 10.000 gelas plastik berukuran 240 mililiter bisa membuat tumpukan sampah 2 m³-3 m³. Meski daur ulang plastik banyak dilakukan, tak semua sampah plastik itu bisa diolah kembali.

Mohamad Faisol, pemilik Mitradata Plastic Packaging, produsen plastik di Surabaya, Jawa Timur, menyadari betul dampak negatif tersebut. Karena itulah, dia mencoba bahan baku alternatif pengganti plastik, yakni kulit jagung dan biji ketela.

Menurutnya, kedua bahan tersebut sangat cocok karena memiliki serat yang cukup kuat. "Sebenarnya banyak sekali bahan yang bisa dipakai, namun yang ekonomis dan tersedia dalam jumlah banyak adalah kulit jagung," katanya.

Faisol mulai membuat gelas dari kulit jagung sejak tiga tahun silam. Namun, lanjutnya, peminat gelas dari kulit jagung masih minim. Maklum, harga gelas kulit jagung lebih mahal ketimbang gelas plastik.

Satu gelas dari kulit jagung berukuran 10 gram berharga Rp 600, sedangkan bandrol gelas plastik hanya Rp 250. "Harga gelas kulit jagung belum bisa bersaing," katanya.

Alhasil, meski Faisol sudah mencoba memasarkan ke berbagai pihak, respon konsumen masih minim. "Saya baru memasarkan 5.000 gelas," ujarnya. Artinya, dia hanya mendapatkan pemasukan sekitar Rp 3 juta dari gelas kulit jagung itu.

Lain halnya dengan gelas berbahan plastik. Sebagai produsen gelas plastik, dia bisa menjual sekitar satu juta gelas setiap bulan. Omzet dari penjualan gelas plastik tersebut mencapai Rp 250 juta setiap bulan. "Pembelinya 80% produsen minuman teh," kata Faisol.

Pembuatan tiga pekan

Untuk mempromosikan gelas kulit jagungnya, Fasiol menyebarkan contoh ke sebagian besar produsen consumer goods. Mulai dari yang skala kecil hingga berskala multinasional. Bahkan, produk sampel itu tak hanya berupa gelas, tapi juga berbentuk botol. "Saya juga menawarkan dalam bentuk setengah jadi ke produsen boneka. Biar mereka mengolah sendiri," tuturnya.

Kualitas gelas maupun botol dari kulit jagung tidak kalah bagus dengan gelas yang terbuat dari plastik. Selain antibocor, penampilan gelas dari kulit jagung ini juga menawan. Karena, sisi luar gelas tetap bisa didesain atau dibubuhi merek-merek tertentu dengan cara di-print alias dicetak.

Hanya, proses pembuatan gelasnya membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar tiga pekan. Pasalnya, kulit jagung harus melalui beberapa tahapan proses. Mulai dari dihancurkan hingga menjadi biji kulit jagung yang sama seperti biji plastik. "Kalau sudah menjadi biji seperti biji plastik proses pembuatannya sama seperti gelas plastik," katanya.

Tak hanya proses pembuatan yang mirip, mesin yang digunakan pun sama seperti mesin pembuat gelas plastik. Yang paling penting, ketika menjadi sampah, gelas dari kulit jagung bisa diserap tanah dan menjadi pupuk.

Menurut Faisol, di negara lain, terutama di negara maju, sebagian besar produsen consumer goods sudah beralih menggunakan kulit jagung sebagai pengganti plastik. Bahkan, lanjut dia, Taiwan sudah mulai menggunakan kulit jagung untuk membuat gelas plastik. "Gelas kulit jagung Taiwan sudah diekspor ke Amerika," katanya.

Fasiol berharap produsen consumer goods di negeri ini juga mulai mau menggunakan alternatif pengganti selain plastik. Semakin cepat, tentu akan kian baik.
[/size]

Komentar

  • mudah-mudahan masyarakat indonesia ataupun berbagai produsen beralih ke kulit jagung, dan semoga apa yang selama ini kita lihat seperti di pintu air manggarai dan sepanjang kali ciliwung begitu banyak sampah plastik, lambat laun akan berkurang
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori