Contact Us

Wawancara Anwar Ibrahim "Indonesia Anggap Elit Malaysia Arogan"

[size=small]Wawancara Anwar Ibrahim[/size]

[size=x-large][size=large]"Indonesia Anggap Elit Malaysia Arogan"[/size][/size]

[size=medium]Agar rakyat Indonesia mengerti, di Malaysia masih ada yang mencintai saudara serumpun.[/size]

67194anwaribrahim300225.jpg

Sabtu, 28 Agustus 2010, 00:01 WIB Elin Yunita Kristanti, Nezar Patria


VIVAnews – KETEGANGAN Indonesia dan Malaysia makin menjadi. Di Jakarta, demonstrasi menentang Malaysia masih merebak. Benteng Demokrasi Rakyat atau Bendera, misalnya, masih menggelar demonstrasi, di markasnya Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat 27 Agustus 2010.

Meski hanya puluhan orang, Bendera berkoar minta pemutusan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Beberapa hari sebelumnya, kelompok itu beraksi di depan Kedutaan Besar Malaysia. Mereka membakar bendera Malaysia, dan melempari bendera ‘Jalur Gemilang’ dengan kotoran. Bahkan mengancam sweeping warga Malaysia.

Tentu saja ada warga Malaysia yang berang. “Berapa lama lagi kami harus mentolerir ini?,” kata seseorang yang mengatasnamakan diri sebagai ‘Frustated Malaysian’ seperti dimuat situs berita Malaysia The Star.

Disulut oleh insiden saling tangkap warga antar dua negara di perairan Bintan, Jumat 13 Agustus 2010, ketegangan merambat ke Jakarta dan Kuala Lumpur. Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman mendesak RI bertindak tegas pada masa Bendera. Malaysia akan mengeluarkan anjuran berpergian (travel advisory) ke Indonesia.

“Bendera ingin menggunduli warga kami dan mengirim mereka pulang? Ini adalah penghinaan bukan hanya bagi Malaysia tapi juga Indonesia karena banyak masyarakat yang tidak menyetujui tindakan ini,” tegas Anifah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun ambil tindakan. Dia memberi instruksi khusus kepada Menko Polkam Djoko Suyanto untuk menangani ketegangan ini. Dua negara juga akan duduk satu meja membahas ribut-ribut itu pada 6 September 2010 nanti melalui ajang Joint Ministry Conference.

Apa sebenarnya yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia?

Mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim menilai, ketegangan terjadi saat ini sudah akut. Ini adalah akumulasi dari permasalahan yang berlarut. “Sudah sampai pada tingkat massa, ini sudah tidak sehat,” kata Anwar ketika diwawancarai VIVAnews, Jumat 27 Agustus 2010.

Menurut dia, betapapun ketegangan itu ada, kepentingan dua bangsa tak boleh dikorbankan. Lalu, mengapa kedua negeri serumpun ini akan merugi jika konflik berlarut? Berikut petikan wawancara Anwar Ibrahim dengan VIVAnews:

bersambung
«1

Komentar

  • Hubungan Indonesia-Malaysia makin panas. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

    Saya berpendapat, bahwa tension [ketegangan] sudah berlarut-larut, dari soal budaya hingga soal TKI. Dan kini soal sempadan [batas wilayah], juga marine [kelautan].

    Saya mendesak pimpinan dua negara berunding menangani masalah itu, karena ini sudah sampai pada tingkat massa, ini sudah tidak sehat. Karena betapapun ketegangan itu ada, kepentingan negara yang sangat strategis tak boleh dikorbankan.

    Sikap Anda soal pelemparan kotoran ke kantor Kedutaan Besar Malaysia?

    Kedua rakyat [baik Malaysia dan Indonesia] tidak mendukung pendirian arogan itu. Pelemparan najis itu tidak wajar. Sekedar mengemukakan pandangan, memprotes, itu ya biasa dalam negara demokrasi.

    Walaupun di sini [di Malaysia] kurang mengerti, sebab di sini dilarang semua protes-protes. Mereka Yang disenangi pemerintah bisa, yang tidak, lain, dilarang semua, berbeda.

    Sudah diketahui saya punya pandangan yang relatif intim dengan Indonesia. Di sini disinggung seolah saya senang dengan sikap itu [Bendera], tapi tidak benar. Bagi saya soal hubungan dua negara harus mengatasi kepentingan politik fraksi.

    Yang malang, pimpinan negara agak slow menangani, dibiarkan gitu makanya parah. Ini persoalan yang harus ditangani dengan rujuk fakta. Kepala negara, wakil, atau pimpinan penting utama harus segera menangani.

    Soal sempadan, TKI, ini soal lama, saya ingat terus. Dalam hubungan dulu dengan Pak Habibie [Presiden RI, BJ Habibie] saya direct call dengan Pak Habibie, harus begitu.

    Apa persepsi warga Malaysia terhadap konflik ini?

    Belum merebak. Cuma ada satu pihak, media main sentimen soal isu najis sebagai isu besar meski hanya melibatkan sejumlah kecil orang di Indonesia.

    Saya juga melihat di koran, dari liputan televisi, banyak yang tidak senang dengan itu. Saya sebagai sahabat sejati Indonesia, saya pun berfikir demikian. Sebab, kalau konflik ini diteruskan, hanya menguntungkan buat yang arogan.

    bersambung
  • Siapa pihak arogan yang dimaksud?

    Kalangan yang tidak senang atau yang mengambil suatu penilaian tidak baik, atau tidak senang dengan hubungan baik dua negara.

    Konflik sudah lama terjadi, bukan kali ini saja. Apa sebenarnya persoalan dasar antara Indonesia-Malaysia?

    Saya tekankan, ini isu panjang, horizontal. Terutama isu soal TKI, itu sentral. Bahwa TKI harus diperlakukan baik, ada political will. Persepsi orang Indonesia saya tahu benar, bahwa pimpinan atau elit Malaysia selalu arogan. Ini terkungkung kenyataan, [kondisi] di sini tidak juga membantu.

    Akhirnya timbul reaksi yang memicu ketegangan. Panjang ceritanya, tapi pokoknya, pimpinan harus segera bertindak. Bukan berperang tapi untuk runding.

    Untuk media massa, Indonesia yang menganut demokrasi, aturan media bebas. Di sini liputan media dikontrol pemerintah, lain. Perbedaan boleh [bisa], tapi kali ini yang bisa kita selesaikan, kita selesaikan.

    Apa yang harus dilakukan rakyat untuk menyikapi isu sensitif ini?

    Pandangan saya tidak sama dengan pemerintah, pandangan saya berbeda dan kritis. Pesan saya kepada rakyat Indonesia, tunduklah pada hukum. Kalau ada pelanggaran, harus konsisten, negara harus menyelesaikannya.

    Supaya rakyat Indonesia mengerti, ada kalangan [di Malaysia] yang mencintai saudara serumpun. Mereka bisa protes, itu hak demokrasi, tapi kawal tata susila.

    Ini pernyataan orang yang simpati dengan Indonesia. Kalau Anda lihat di sini, tiap kali disinggung, baik di parlemen di luar parlemen–Anwar ini tidak nasionalis, dikatakan pro sana pro sini, saya tidak peduli, karena pendirian saya [soal Indonesia] konsisten.

    Di kalangan UMNO, dikatakan saya senang [jika ada konflik], provokator. Buat saya ya itu politik murahan.

    Sikap Anda yang simpati pada Indonesia dipermasalahkan?

    Ya, secara terbuka oleh banyak menteri, parlemen, juga masyarakat luas. Saya mewakili pandangan yang mau Indonesia dan Malaysia lebih akrab. Kita dulu amat membutuhkan Indonesia. Saya masih ingat perundingan dengan Pak Harto, "Pak tolong pak soal ini, kita merayu ke negeri jiran, banyak kawan berikan".

    Penghinaan terhadap bendera Malaysia justru akan digunakan [oleh pihak lain], yang rugi kan rakyat, seperti kami yang menghendaki demokrasi.

    Mereka akan bilang,”itu kamu mau demokrasi, demokrasi itu bakar bendera.” Padahal itu tidak benar. Itu digunakan tangan tertentu untuk ‘memukul’ kami.

    Beredar spekulasi ada kepentingan politik menggunakan isu ini sebagai alat. Misalnya kekuatan politik di Indonesia, atau di Malaysia yang popularitasnya sedang turun. Benarkah?

    Ada juga tafsiran itu, ada kesan soal internal --mereka sengaja mengabdikan ini seolah ada serangan, gugat. Saya lihat mainan spirit, survival Melayu yang keterlaluan, rasis.

    Isu ini dieksploitasi, termasuk isu konflik dengan Indonesia. Tapi saya tidak mendapat keterangan atau informasi soal yang jelas soal itu.

    Yang mampu saya katakan, bahwa media UMNO sengaja mengaktifkan isu ini. Namun apapun, yang terpenting, kepentingan dua negara jauh lebih penting. Ini yang saya tekankan.
    • VIVAnews
  • Kedua rakyat [baik MalingSea dan Indonesia] tidak mendukung pendirian arogan itu. Pelemparan najis itu tidak wajar. Sekedar mengemukakan pandangan, memprotes, itu ya biasa dalam negara demokrasi.
    Walaupun di sini [di MalingSea] kurang mengerti, sebab di sini dilarang semua protes-protes. Mereka Yang disenangi pemerintah bisa, yang tidak, lain, dilarang semua, berbeda.

    Berbeda 180 derajat, Indonesia dengan Demokrasinya dan Malaysia yang dilarang protes sama pemerintah berkuasa :)


    Yang malang, pimpinan negara agak slow menangani, dibiarkan gitu makanya parah. Ini persoalan yang harus ditangani dengan rujuk fakta. Kepala negara, wakil, atau pimpinan penting utama harus segera menangani.
    Dalam hubungan dulu dengan Pak Habibie [Presiden RI, BJ Habibie] saya direct call dengan Pak Habibie, harus begitu.

    Harusnya memang begitu barangkali, lebih cepat selesai :)

    Saya tekankan, ini isu panjang, horizontal. Terutama isu soal TKI, itu sentral. Bahwa TKI harus diperlakukan baik, ada political will. Persepsi orang Indonesia saya tahu benar, bahwa pimpinan atau elit MalingSea selalu arogan. Ini terkungkung kenyataan, [kondisi] di sini tidak juga membantu.

    Pengakuan yang sangat-sangat jujur sekali bahwa memang kenyataannya banyak elite Malaysia yg arogan :)


    Akhirnya timbul reaksi yang memicu ketegangan. Panjang ceritanya, tapi pokoknya, pimpinan harus segera bertindak. Bukan berperang tapi untuk runding.
    Untuk media massa, Indonesia yang menganut demokrasi, aturan media bebas. Di sini liputan media dikontrol pemerintah, lain. Perbedaan boleh [bisa], tapi kali ini yang bisa kita selesaikan, kita selesaikan

    Great, sebenarnya Anwar ini tipikal pemimpin yang baik dan cepat bertindak :top:
    Sayang 'Sodomi' jadi batu sandungan :)

    Sikap Anda yang simpati pada Indonesia dipermasalahkan?
    Ya, secara terbuka oleh banyak menteri, parlemen, juga masyarakat luas. Saya mewakili pandangan yang mau Indonesia dan MalingSea lebih akrab. Kita dulu amat membutuhkan Indonesia. Saya masih ingat perundingan dengan Pak Harto, "Pak tolong pak soal ini, kita merayu ke negeri jiran, banyak kawan berikan".

    Salah satu saksi sejarah dan ex pemimpin yang harus didengarkan kedua negara. Salut :)

    Facebook Notes: http://www.facebook.com/note.php?note_id=109886472402706
  • [size=medium]bingung mau komen apa :confused:

    berperang atau berunding :pusing:

    kalau berperang banyak orang menderita dari sisi sosial dan ekonomi

    kalo berunding pemerintah tidak bisa jamin malaysia tidak akan mengulanginya lagi

    malaysia kan seperti punya penyakit kronis yang terkadang sering kambuh :blah:
    [/size]
  • ketegasan pemerintah yg di inginkan rakyat...sy rasa semua org tidak ada yg suka perang....TEGAS....
  • Malaysia memang arogan, mereka suka mengganggu kita, diliran diganggu balik, mereka marah.
    Saudara macam apa itu :mad:
  • mungkin merasa udah hebat malinSea sering sekali nyakitin hati rakyat Indonesia

    dan ketidakbiasaan MalaySea atas kebebasan berpendapat dg segala cara..


    apabila mau Berunding harus diselesaikan dg tidak merugikan Indonesia
  • tegas , berani bukan berarti minta perang ........ mengalah dan lemah dalam keadaan kita benar hanya akan membuat kita diinjak-injak.....
    tegakkan peraturan dan hukum ..........
    kalau perang jalan terbaik kenapa tidak ...... walaupun kita tidak senang akan itu ,........
  • Man!!...prinsipnya:

    KALO MAU DAMAI .... HARUS SIAGA BERPERANG ....
  • Rencana hari raya jalan-jalan ke MailingCiek....
    Aman nggak ya :confused:

  • Uda Perang aja..............................!!!
  • jujur, adil dan tegas..... menyadur bang Pong....
  • Sucks Dicks menulis:
    ketegasan pemerintah yg di inginkan rakyat...sy rasa semua org tidak ada yg suka perang....TEGAS....

    :agreed::agreed:
  • Indonesia memang kurang tegas..
    dimana harkat dan martabat bangsa kita :(
  • Saya rasa tegas nya Indonesia bukan berarti perang. Kalau ada kapal asing pelanggar batas yang tidak mau diperingatkan seharusnya ditenggelamkan saja, seperti Korea Utara. Itu kalau kita mau disegani kawan dan lawan
  • Malingsea harus sadar kehidupan demokrasi dan politik di Indonesia. Negeri ini mengijinkan warganya berbeda pendapat bahkan dengan pemerintahnya sendiri, Si Menteri Luar Negeri Malingsea Mbak Anifah yang mengancam dengan travel advisor hanya menggentarkan kabinet SBY, tapi buat saya, kami, kita Rakyat Indonesia seperti pepesan kosong saja hauahauahuahua...


    :D
  • Malayshit adalah provinsi kita yang masih nakal
  • Sudah lah perang aja,baru bisa berubah malingsea
  • Kadang bingung mau comment apa lagi ? Susah menghadapi bangsa yang suka cari gara-gara dan merasa bangsa yang paling hebat . . . lihat aja bagaimana kelanjutannya sehabis lebaran ini !

  • Arogan betul itu orang malingsia...........terutama pemimpin dan para pejabat2 mereka
    mereka belum melewati masa2 reformasi demokrasi seperti di indonesia.............
    pemimpin dan pengusasa disana sangat berkuasa sekali mirip2 indonesia jaman Suharto.
    egois dan arogan ,,,,,,,,,,,,itulah kata2 yg paling tepat untuk nereka
  • Yach sudahlah, Buat generasi muda, bersabarlah, siapkan bambu runcing lagi, jadikan malingsia kelurahan aja dech, gak usah dijadikan propinsi lagi :ngakak:
  • sejak dulu bpk Anwar memang telah mnajdi oposisi, pejuang reformasi, makanya sering di fitnah sama para "incumbent" :wait:
    setidaknya masih ada orang yang mau bersikap terbuka terhadap kekuranagnnya sendiri, kalau tidak, malays*** benar bnar terkesan kerdil dan egois sekali..
    :mad:
  • ketegasan pemerintahan kita lah yang di butuhkan...jangan cuma tegas pada bangsa sendiri tetapi tegaslah pada kedaulatan NKRI...kamu pasti bisa kami di belakangmu..
  • terus memantau,,.. klo bisa yg terbaik...
  • YKS menulis:
    Saya rasa tegas nya Indonesia bukan berarti perang. Kalau ada kapal asing pelanggar batas yang tidak mau diperingatkan seharusnya ditenggelamkan saja, seperti Korea Utara. Itu kalau kita mau disegani kawan dan lawan

    Saya setuju pendapat ini ...:top:
    Hal ini bisa jadi contoh bagaimana satu negara di Smenanjung Korea di-embargo sedemikian rupa namun hanya dan walaupun dengan satu tindakan kecil yang menuai kecaman dan yang paling PENTING adalah TIDAK DIREMEHKAN MARTABAT SUATU BANGSA
    Bukan hanya sikap hanya tindakan yang bisa mengingatkan, bila masih saja berkelakuan serupa maka NKRI HARGA MATI... DIPLOMASI OK tapi jika tidak ya... PERANG SAJA
    KITA SIAP MATI DEMI BANGSA DAN NEGARA !!!
  • Kita ( indonesia ) sedang berhadapan dengan Pemerintahan dan masyarakat ( malingsia ) yang belum tahu demokrasi..................sehingga baik pemimpin dan warganya tidak tahu apa yang namanya kritik2 apalagi dr kelompok2 yg beroposisi atau dr masyarakat negera lain.............mereka tidak pernah belajar mendengar pendapat2 lain selain pemahaman2 mereka sendiri...................jadi mereka cenderung arogan.............penguasa dan para pejabat mereka cenderung arogan....
  • Anwar Ibrahim...
    Pada saat anda berkuasa apa yang akan anda lakukan... :confused:
  • moga-moga cepet beres semua dan rakyat biosa tenang menjalaini hidup :)
  • perang saja dengan malingsia, "buat sejarah baru" ..!!!

  • udah habisakan saja etnis malyisial, dengan begitu tidak akan ada sejarah malysial didunia, maka konflik yang akan datang pasti nggak ada lagi
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Iklan & Promosi Anda


Order ads here. Click me to get price quotation! Monthly & Unlimited click!

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori