Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Lagi-lagi masalah Bahasa Indonesia

DARI MILIS TETANGGA BRO, MUNGKIN BERGUNA

[PERS-Indonesia] Pentil Kecakot......Ganol....Ganol......!

Oleh : Yoseph Tugio Taher

13-Sep-2007, 19:51:59 WIB - [www.kabarindonesia.com]

Kabar Indonesia - Aha, bahasa apa yang menjadi judul tulisan ini?
Bahasa Indonesia ataukah bahasa Jawa? Dan apa arti dan maksudnya?
Apakah bahasa humor ataukah bahasa saru, jorok atau `kumuah'
mengikuti logat Minangkabau? Untuk bisa sampai kepada arti dan
maksud kalimat yang menjadi judul tulisan di atas, mari kita sedikit
putar-putar terlebih dahulu.

KabarIndonesia mengadakan polling yang berbunyi: "Keberadaan Bahasa
Indonesia sebagai jati diri bangsa saat ini memprihatinkan.
Bagaimana pendapat anda?"

Setelah kita lihat hasil pollingnya, aduuuhhhh........73% sangat
setuju dan 23% setuju. Ini berarti kalau yang `sangat' ini kita
lunakkan sedikit menjadi setuju, ini berarti 73%+23%= 96% setuju dan
mengerti sepenuhnya bahwa bahasa Indonesia memang sangat
memprihatinkan, untuk tidak mengatakan `bobrok!' atau `rusak!'.

Jauh sebelum saya nongol di bumi ini, pada 28 Oktober 1928, para
pemuda bangsa kita, para pejuang kebangsaan, telah berkumpul dalam
satu Kongres Pemuda dan bersatu pendapat dalam satu suara yang
kelak dikenal sebagai Sumpah Pemuda, bahwa: *Pertama: Kami Poetera
dan Poeteri Ingdonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah
Indonesia.*Kedoea: Kami Poetera dan Peteri Indonesia, Mengakoe
Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. *Ketiga: Kami Poetera dan
Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa
Indonesia. (dikutip mengikut teks asli dari
http://id.wikipedia.org/Sumpah_Pemuda)
Pernyataan yang nomor tiga di atas adalah: Menjunjung Bahasa
Pesatuan, yaitu Bahasa Indonesia! Para leluhur kita, para founding
fathers, para pemimpin rakyat dan bangsa, berusaha menjaga dan
melestarikan bahasa Indonesia, yang diambil dari dialek Melayu,
menjadi suatu Bahasa Pesatuan Bangsa Indonesia, dari Sabang sampai
Merauke.

Akan tetapi, dengan berjalannya masa, dengan lahirnya begitu banyak
mass-media, dan media komunikasi, TV dan sebagainya, bahasa
Indonesia, yang telah begitu banyak mengadopsi bermacam bahasa
bangsa lain seperti, Sanskrit, Arab, India, China, Portugis,
Spanyol, di samping meng-Indonesia-kan bahasa-bahasa asing dan
daerah, mengalami bermacam-macam perubahan.

Dengan meningkatnya pengetahuan dan pemakaian bahasa Inggris oleh
bangsa Indonesia, maka makin menjadikan bahasa Indonesia kehilangan
arti dan maknanya. Para pemimpin pemerintah, atau pemimpin rakyat,
merasa kurang `gagah' dan dianggap kurang `berpengetahuan' kalau
dalam ucapannya tidak menyelipkan kata-kata Inggris atau bahasa
asing lainnya. Kendati pun ada bahasa Indonesia yang mudah
dimengerti rakyat daripada `bahasa asing' yang diucapkannya itu!

Contoh gamblangnya, adalah Bung Karno! Untuk membuka mata rakyat,
untuk menjadikan rakyat Indonesia menyadari harga dirinya, Bung
Karno tidak segan-segan menggunakan kata "Vivere Pericoloso" yang
berarti "Berani menyerempet-nyerempet bahaya!", jaga perkataan
bahwa " Revolusi itu adalah "Umwertung Alle Werte" yang berarti
bahwa Revolusi itu adalah "Perobahan Segala-galanya!"

Dengan kata asing yang diucapkan Bung Karno, rakyat Indonesia
belajar dan mendapat pengetahuan dan keberanian! Namun, Bung Karno
bukanlah keranjingan bahasa asing. Dia juga menggunakan bahasa yang
digali dari bumi persada Indonesia sendiri, seperti "Gemah ripah loh
jinawi tata tentrem kerta raharja', "yo sanak yo kadang yen mati aku
sing kelangan!" dan lain sebagainya, yang semuanya itu menaikkan
nilai jati diri bangsa Indonesia. Bung Karno juga pernah menggunakan
kata singkatan, persatuan huruf-huruf yang menjadi satu arti,
seperti misalnya ketika dia menamakan Haji Dr. Ruslan Abdul Gani
menjadi Haji "Djubir Usman" yang waktu itu diartikan sebagai
Haji "DJUru BIcaRa USdek MANipol" Juga singkatan dari judul
pidatonya, seperti Nawaksara, Jasmerah dan lain-lain.

Ketika itu, sudah banyak kata-kata Indonesia yang dipersingkat
penulisannya, berkemungkinan untuk menghemat waktu dan uang. Dan ini
digunakan oleh para wartawan dan juga telegrafis, seperti misalnya
kata-kata dari (dr), daripada (drp), kepada (kpd), yang terhormat
(yth), Yang Maha Esa (YME) dan sebagainya, sehingga seolah-olah kata
singkatan itu merupakan bahasa tersendiri dalam bahsa Indonesia!
Seperti bahasa telegram, atau zaman sekarang bahsa SMS! (Tidak
perlu ditulis penuh untuk menghindari pembayaran tinggi!)

Dengan naiknya Soeharto menjadi penguasa di mana Indonesia, dari
Sabang sampai Merauke diperintah oleh militer yang punya bedil, dan
dari Presiden sampai Lurah, RT dan RK dijabat oleh Militer, mulailah
segala macam singkatan militer dijejalkan kepada rakyat. Ada
Pangkopkamtib, ada Laksusda, ada Juklak, ada Pepelrada, ada Teperda,
di samping Kodam, Korem, Kodim, Babinsa dan segala macam tetek-
bengek bahasa singkatan militer, yang semuanya itu mempengaruhi
(kalau tidak mau dikatakan merusak) kemurnian Bahasa Pesatuan,
Bahasa Indonesia!

Tiga puluh dua tahun rakyat diajar menjadi bodoh oleh Orba melalui
kekuasaan militernya. Tanpa disadari, tanpa bantahan dan tanpa
koreksi, laksana minuman keras, rokok dan sabu-sabu yang menjalar ke
pembuluh darah, begitulah pembusukan dan perusakan dan pembodohan
yang diprakarsai oleh pihak militer Orba. Rakyat menjadi malas,
masa bodoh dengan arti penting kemurnian dan jati diri bangsa dalam
mempertahankan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Semua ikut
kemauan sendiri-sendiri.

Kini, kita mewarisi segala apa yang telah rusak! Bahasa Bunda,
bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia, kini tidak murni lagi! Hampir
setiap kata sekarang ini berobah sebutannya. Bahasa Indonesia telah
menjadi bahasa SMS (Short Message Service) layaknya.

Bagi bangsa Indonesia yang hidup di luar negeri, yang bertahun-tahun
tidak kembali ke tanah-air, dan jarang bergelut dengan media-massa
tanah air, merasa susah, merasa kikuk untuk mengerti akan kata-kata
yang diucapkan atau dituliskan oleh surat-surat kabar masa kini.
Banyak contoh yang bisa kita kemukakan, seperti: gakin, ilog,
muscablub, pansel, pasutri, disdukcapil, tupoksi, panwaslukadal,
camer, curanmor, sidak dan banyak yang lainnya lagi. Setiap orang
membuat singkatan kata-kata sendiri, menggunakannya, menulisnya
berkali-kali di surat kabar dan jadilah ia sebagai tumbuhan baru
dalam tata bahasa Indonesia.

Tanpa diikuti dengan keterangan akan arti dari kata-kata singkat
yang tersebut di atas, siapa yang dengan mudah bisa menebak dan
mengetahui apa artinya? Dan `bahasa singkatan' atau bahasa SMS ini,
telah mempengaruhi hampir semua media massa Indonesia. Perusakan
dan Pembusukan Bahasa Bunda serta Pembodohan yang dilakukan dan
diwariskan oleh Orde Baru, nampaknya menjadi semakin parah.
Masyarakat dan mass media nampaknya sekarang hantam kromo, menulis
seenaknya menurut selera masing-masing, dan keluar dari peraturan
penggunaan Bahasa Indonesia yang baik. Seperti contoh, sebuah surat
kabar di Jakarta menulis begini:

"Tuh Kan Jaksa Agung Lagi-lagi
Bo'ong" Senin, 05 Maret 2007,
06:13:03

Nah. ini Bahasa Indonesia ataukah Bahasa Betawi? Sayangnya, berita
yang tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik ini ditulis justru
oleh suratkabar yang bertaraf Internasional, yang bertitel "Berita
Nusantara Kelas Dunia" yang seharusnya membela kemurnian Bahasa
Indonesia. "Wartawan harus patriotik membela bahasa Indonesia
seperti awal-awal kebangkitan Bangsa Indonesia" kata Ketua Umum
Forum Bahasa Media Massa (FBMM), Dede Asmadi di Kuta Bali dalam
diskusi bahasa media massa, seperti yang diberitakan oleh Kantor
Berita Antara 7 Maret 2007. Apakah para wartawan media-massa
Indonesia acuh dan mengikuti saran itu?

Di samping itu, ada juga yang menggunakan dan menulis bahasa Inggris
seenaknya, tanpa menyadari bahwa hal itu sebenarnya merusak bahasa
orang lain, seperti misalnya "fren to fren" (yang maksudnya
tentu `friend to friend') dan juga menulis "Webside" untuk
maksud "situs" yang seharusnya mesti ditulis Website! (Dengan
ditulis `webside', orang Inggris tentu akan bertanya: "Which side?
Left or right?").

Jadi, dengan porak-porandanya, dengan semrawutnya, dengan
amburadulnya penggunaan tata bahasa dan kata-kata Indonesia, orang
akan dengan seenaknya membuat kata singkatan dalam pengucapan kata
dan bahasa Indonesia, sehingga mengaburkan arti dan makna bahasa
aslinya, hingga tidak heran kalau orang juga akan seenaknya
mengeluarkan kata-kata: "Pentil Kecakot......ganol....ganol"

Apa arti kata atau singkatan kata-kata di atas? Mungkin ada di
antara anda yang sudah tahu, namun bagi yang belum tahu, baiklah
kusebutkan! Perkataan ini terucap, ketika seorang Kolonel menelepon
suatu kantor Pemerintah. Sang Kolonel mendapat jawaban dari seberang
sana: "Hallo, ini Pentil Kecakot, ganol....ganol!" Sang Kolonel
menjadi marah dan dengan membentak berkata, "Ini Komandan Kodim!
Siapa di situ?" Dari seberang, dengan gugup si suara menjawab: "Ini
Penjaga Tilpon Kecamatan Kota.....Tiga Nol Tiga Nol, Paaakkk......!"

Nah, dengan jawaban itu tahulah si Kolonel bahwa "Pentil
Kecakot....ganol....ganol" adalah PENjaga TILpun KECAmatan
KOTa......TiGA NOL... TiGA NOL. Jadi, polling yang diadakan oleh
Kabar Indonesia berkenaan dengan keadaan Bahasa Indonesia
yang "sangat memprihatinkan", adalah benar dan sangat tepat sekali!
96% para pembaca Kabar Indonesia menyadari bahasa kita, bahasa
Bunda, telah rusak!!! Nah, tidak perlukah kita, dan tidak beranikah
kita memperbaiki bahasa Bunda, Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia,
agar tidak menjadi Bahasa Gado-Gado?

Blog: http://pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
«1

Komentar

  • Baik.

    Kita akan segera buat aturan baru di FBI.
    Dan akan kita coba aplikasikan dalam beberapa Room.
    - Wajib menggunakan bahasa Indonesia dan bukan bahasa lain/singk..
    - Tentunya dibutuhkan referensi benar yg bisa kita koreksi bersama
    - Mohon share infonya referensi. Kalau mungkin kita pakai yg mana?
    - Dari kamus mana? JS. Badudu? WJS Poerwadarminta? Atau lainnya?

    Hukuman
    - Kalau ada kesalahan 1-3 kata bisa ditolerir,
    - Kalau ada lebih. Maka post yg bersangkutan berhak dihapus moderator
    - Kecuali berita atau post yg bersifat artikel (copy paste) - dimaklumi

    Pengecualian
    - bahasa yg dipakai dalam forum/link/atau kalau padanan katanya susah

    Tambahan
    - pendapat, saran dari rekan semua kita tunggu

    Salam :)

    NB: Mohon maaf, kalau bahasa saya diatas masih acak-adut campur2 :grin:
  • admin menulis:
    Baik.

    Kita akan segera buat aturan baru di FBI.
    Dan akan kita coba aplikasikan dalam beberapa Room.
    - Wajib menggunakan bahasa Indonesia dan bukan bahasa lain/singk..
    - Tentunya dibutuhkan referensi benar yg bisa kita koreksi bersama
    - Mohon share infonya referensi. Kalau mungkin kita pakai yg mana?
    - Dari kamus mana? JS. Badudu? WJS Poerwadarminta? Atau lainnya?

    Hukuman
    - Kalau ada kesalahan 1-3 kata bisa ditolerir,
    - Kalau ada lebih. Maka post yg bersangkutan berhak dihapus moderator
    - Kecuali berita atau post yg bersifat artikel (copy paste) - dimaklumi

    Pengecualian
    - bahasa yg dipakai dalam forum/link/atau kalau padanan katanya susah

    Tambahan
    - pendapat, saran dari rekan semua kita tunggu

    Salam :)

    NB: Mohon maaf, kalau bahasa saya diatas masih acak-adut campur2 :grin:
    setuju..setuju...salah satu pandangan kebangsaan yang bagus...memacu dan memicu untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar...:top:
  • Setuju...... :top: :top: :top: :top:
  • Pentil kecakot ganol ganol . . . .
    Lucu sekali cara mengucapkannya :grin: :grin: :grin: :grin: :grin:
    ( Sambil ngakak aku nulisnya )
    Cicero...Cicero... Superman nya lucu ya :grin: :grin: :grin: :grin:

    Ini juga pernah dulunya diposting sama bang Cicero ini
    cicero menulis:
    Bahasa Indonesia dengan tidak bermaksud mengusik nasionalisme ternyata bahasa yang tidak lengkap alias banyak kurangnya. Tidak percaya, ini buktinya :
    Maju padanannya ke depan
    Mundur padanannya ke belakang
    Naik padanannya ke atas
    Turun padanannya ke bawah
    Masuk padanannya ke dalam
    Keluar padanannya ...........
    Apa coba? Tuh kan nggak lengkap.
    Saya sudah pernah mempertanyakan ini pada ahli bahasa kita dahulu JS Badudu, beliau hanya tersenyum... :D
    :confused: :confused: :confused: :confused: :confused: :confused:
    Bang Cicero emang pengamat bahasa ! ! :top:
  • Malah mungkin cicero adalah yoseph tugiyo taher sendiri :top:
    Agak berat untuk diterapkan pada komunitas kita ini.
    Yang santai tapi bersemangat dalam global faith and tolerence
    Mengapa tidak jika memang untuk bangsa kita ini.
  • keluar padanan ngeeecrooottt...!!!!!
  • Masalah bahasa lagi, semoga tidak bosan.

    Koran Tokoh Edisi Minggu 9 September.

    Sejak Merebaknya Stasiun Televisi
    Bahasa Indonesia Alami Penurunan Mutu

    MEDIA massa memiliki peran penting dalam pengembangan bahasa Indonesia. Kata ‘unduh’, ‘canggih’, ‘tombol’ muncul di masyarakat berkat sosialisasi media massa. Di sisi lain, media massa juga memberi sumbangan negatif, yaitu menyuguhkan kekerasan fisik dan verbal. Sialnya, itu terjadi pada jam produktif bagi anak menonton tayangan televisi. Demikian diungkapkan Dr. I Wayan Pastika, M.S., dosen Fakultas Sastra (FS) Unud dalam diskusi “Sumbangan Media Massa kepada Perkembangan Bahasa Indonesia” yang diadakan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Bali bekerja sama dengan FS Unud, Kamis (30/8). Diskusi diawali Orasi Ilmiah berjudul “Fonetik Eksperimental dan Manfaatnya pada Kajian Fonologi” oleh I Nyoman Suparwa. Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangka ulang tahun ke-49 Fakultas Sastra Unud.
    Pastika yang membawakan materi “Bahasa Pijin dan Bahasa Kasar Dalam Acara TV” itu mengatakan, bahasa Indonesia dewasa ini (terutama sejak merebaknya stasiun televisi) mengalami penurunan dari segi mutu karena penggunaannya hampir tanpa kendali baik dari segi leksikal, gramatikal, maupun sosial. Peran media massa sangat besar dalam memberdayakan suatu bahasa menjadi bahasa yang bermartabat tanpa terlalu banyak dikendalikan oleh unsur-unsur bahasa lain.
    Bahasa Indonesia yang kita tuturkan dewasa ini bukanlah bahasa pijin (sebuah bahasa yang dibentuk dari percampuran dua bahasa atau lebih) atau bahasa kreol (bahasa pijin yang dijadikan bahasa ibu oleh suatu guyub tutur). Namun, sejak reformasi sistem perpolitikan di Indonesia, nasib bahasa Indonesia terancam oleh masuknya kosakata dan struktur bahasa asing dan daerah. Masuknya sistem bahasa lain ke bahasa Indonesia hampir tanpa melalui proses penapisan sehingga dapat mengacaukan sistem bahasa Indonesia yang pada akhirnya dapat menggoyahkan kemampuan bahasa Indonesia sebagai penanda jati diri bangsa Indonesia.
    “Menurut pengamatan saya dari segi penggunaan bahasa, siaran berita telah menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah bahasa. Hal ini dapat dilakukan karena ranah berita menggunakan ragam tulis,” kata Editor Pelaksana Jurnal Terakreditasi Nasional Linguistika ini. Namun, Metro TV mempunyai kegemaran mengklasifikasikan acara-acaranya (terutama siaran berita) dengan istilah-istilah asing, seperti Headline News, News Flash, Live by Phone, Top Nine News, dan Business Corner. “Benarkah akan terjadi penurunan jumlah pemirsa apabila stasiun televisi itu mengganti istilah asing dengan bahasa Indonesia, yakni Berita Utama, Sekilas Berita, Langsung melalui Telepon, Sembilan Berita Utama, Sudut Usaha?” tanyanya. “Judul acara hanya pandangan pertama yang kemudian dengan mudah ditinggalkan jika tak sesuai keinginan pemirsanya,” tambahnya.


    Bahasa Kasar
    Pastika juga menyoroti bahasa sinetron. “Hidup kita di Indonesia tidak didominasi oleh Jakarta, termasuk bahasa. Jika dicermati, tayangan televisi nasional banyak menggunakan bahasa Melayu-Jakarta,” ujar doktor linguistik dari Faculty of Arts The Australian National University, Canberra itu. Percampuran kosakata Melayu-Jakarta dengan bahasa Indonesia merupakan suatu bentuk penghilangan jati diri bahasa Indonesia. Ia mencontohkan, 90% sinetron menggunakan bahasa Melayu-Jakarta. Sinetron “Untung tidak selalu Untung” (SCTV), “Soleha” (RCTI), “Hikayah” (Trans), dan “Candy” (RCTI) disebutnya sebagai contoh. Cuplikan sinetron “Untung tidak selalu Untung” yang dicatatnya antara lain “ya deh”, “gua blum bikin PR nih”, “udah deh, PR gua nggak perlu dibacain”, “baru tau rasak, lho”. Jika bahasa ini diungkap kepada orangtua yang hanya mengerti bahasa Indonesia, tentu mereka tak mengerti.
    “Berbeda halnya kalau film televisi itu adalah film impor,” katanya. Sebagian film impor diterjemahkan secara lisan dengan menggunakan bahasa Indonesia ragam umum. Tahun 1980-an, film Jepang berjudul “Oshin” sangat digemari masyarakat karena ceritanya menarik dan mengandung pesan moral positif. Film “The Jewel of Palace” (Indosiar) juga digemari karena mengandung filsafat hidup yang menghargai sesama dan etos kerja. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia ragam lisan umum seperti “Aku tidak mengerti mengapa kejadian seperti ini selalu kualami”, “Aku rasa aku tidak bisa memakannya. Apakah kau bisa memakannya?”, “Nanti kau akan mendapatkan kembali pekerjaanmu”. “Meskipun bukan bahasa Melayu-Jakarta, film ini tetap digemari masyarakat umum,” katanya.
    Pastika pun mengritik bahasa pesohor seni seperti pemain film, penyanyi, dan pembawa acara televisi. Saat mereka berbicara dalam acara televisi yang bersifat informal, mereka lebih menggunakan bahasa “gaul” yang pada intinya juga sebuah bahasa pijin. “Mereka berbahasa seenaknya, tidak sadar bahwa mereka tidak terbatas berada di studio televisi,” kritiknya. “Lu ngomong dong. Enak aja.”, “Gue ngadepin biasa aja.”, “Kayak gini, ngapain pegang-pegang.” merupakan contoh cuplikan pembawa acara dan pesohor yang dicatatnya dalam acara “Infotainmen” dan “Ada Gosip”.
    Buruknya lagi, petelevisian di Indonesia sudah menganggap bahwa bahasa kasar merupakan hal yang biasa. Bahasa kasar merupakan bentuk kekerasan verbal dan diyakini membawa pengaruh tidak baik bagi perkembangan emosi dan budi pekerti. “Diam, tolol” dan “Kalau nongol, mukanya dipecahin” menjadi contoh bahasa kasar yang dianggap lucu dalam lawakan “Tawa Sutra”. “Di luar negeri, stasiun televisi yang menyiarkan bahasa kasar, ada sanksinya. Di sini malah biasa. Tak mengherankan, perilaku kasar adalah hal yang biasa dalam masyarakat kita,” sindirnya.
    Menurut Pastika, berbahasa kasar bertolak belakang dari nilai-nilai budaya kita. “Kalau kita berbicara, harus menjaga mulut kita karena menyangkut etika,” jawabnya menanggapi pertanyaan Pius, mahasiswa FS Unud. Nyoman Suparwa, dosen FS Unud memperhatikan penggunaan kata “joss” yang sangat sering dipakai Harian Denpost. “Kadang dipakai untuk anak-anak yang disetubuhi, kadang untuk PSK. Konotasinya apa? Hati-hati, koran juga dibaca oleh anak-anak,” katanya.
    Ida Bagus Martinaya, Redaktur Bali Post yang juga menjadi salah seorang pembicara utama dalam diskusi tersebut menyatakan, kata ‘joss’ diambil dari kata ‘extra joss’. “Menurut penyair, kata ‘joss’ memiliki kedekatan rasa dengan ditusuk dan dicoblos. Tetapi, seharusnya gunakan saja ‘diperkosa’,” kata Gus Martin. Ia menyatakan bahasa koran yang baik harus memiliki sifat komunikatif, informatif, efektif, inovatif, dan reaktif. Pastika berpendapat, kata ‘joss’ berkonotasi ‘enak’ yang terkesan menistakan orang lain. “Untuk anak-anak yang bernasib sial, kata itu seolah menertawakan mereka,” tandasnya.
    Peran media massa dalam pengembangan bahasa Indonesia juga menjadi perhatian Sukarda dari FS Unud. “Kalau Pusat Bahasa memasarkan bahasa bisa ditolak, tetapi kalau media massa, langsung diikuti,” katanya. Oleh karena itu, Pastika mengatakan, Pusat Bahasa harus bisa “memasarkan” bahasa Indonesia kepada media massa. “Media massa harus mengikuti perkembangan produk Pusat Bahasa. Mereka harus punya kepedulian terhadap kebahasaan, terutama lembaga yang mampu secara ekonomi,” imbuhnya.
    Laksmi dari MGMP Bahasa Indonesia SMK mengatakan, penggalan kata yang ada di koran banyak yang tidak tepat. Ini tentu membingungkan. Ia juga mencermati bahasa iklan. “Kalau baku, bahasa iklan memang kurang pas tetapi jangan sampai membingungkan,” pintanya. Contoh, iklan shampo yang berbunyi, “Sunsilk untuk rambut hitam berkilau.” “Untuk apa rambut yang sudah hitam diberi Sunsilk. Kata ‘untuk’ harusnya ‘agar’,” koreksinya.
    Djoko, dari RRI Stasiun Denpasar mengatakan, RRI pernah bangga karena menjadi rujukan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kemunculan televisi dan radio swasta sangat kuat pengaruhnya. Masyarakat lebih memilih koran dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar tetapi tidak memilih radio berbahasa Indonesia yang baik dan benar. “Sekarang kami sulit mencari pewara atau reporter yang memiliki spontanitas berbahasa Indonesia yang baik dan benar,” akunya.
    Widminarko, Pemimpin Redaksi Koran Tokoh menambahkan, penggunaan bahasa di media massa perlu ada rambu-rambunya. Tiap media massa, bahkan lingkungan kerja lainnya, perlu memiliki ‘buku pintar’. “Penggunaan bahasa Indonesia di media massa perlu memperhatikan aspek logika dan ekonomi kata,” katanya.
    Ida Bagus Suwana dari SMAN 1 Denpasar menanyakan, apa yang bisa kita lakukan mengatasi masalah kebahasaan itu? “Kita harus mulai dari diri sendiri. Sejak tiga tahun lalu, keluhan terhadap tayangan televisi kita sudah dilaporkan ke KPI. Tetapi, hingga saat ini tetap saja acara penuh kekerasan disiarkan. Saya sanksi jika kita memerlukan sanksi untuk itu. Masalahnya, ini ibarat kita terbiasa makan yang enak tetapi tidak sehat. Orang Jepang makan sushi yang tidak enak tetapi panjang umur. Mana yang kita pilih?” ujar Pastika. - rat



    Ratna Hidayati
    Koran Tokoh
    Gedung Pers Bali K. Nadha Lantai 3
    Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar, Bali
    Tlp. +62 361 416 676, 740 2414
    Faks. +62 361 416 659
  • Setutju...... :top: :top: :top: :top: :top:
  • Yang bermasalah itu ya manusianya.
  • aku pikir bukan bahasa indonesianya yang mengalami kemunduran atau apapun namanya tapi semakin berkembang dengan berbagai keaneka ragaman.. bahasa indonesia harus dilihat dari beberap konteks yang berbeda. klo dulu waktu masih sekolah kita mengenal istilah EYD (ejaan yang disempurnakan) klo dalam kontek penulisan makalah, skripsi atau yang lain yang besifat ilmiah kita harus dan wajib menggunakan EYD (termasuk penulisan titik, koma dan penggunaan huruf besar) tapi klo dalam kontek jurnalistik kita harus liat dulu tujuannya. tujuan dari jurnalistik adalah memberikan tulisan dan argumentasi secara lugas yang mudah dicerna oleh masyarakat. sehingga penggunaan bahasa sesuai EYD sangat sulit dilakukan. nah dalam kontek pergaulan kita juga tidak mungkin berbicara sesuai dengan EYD karena kita punya logat dan budaya yang beraneka ragam, yang klo kita cermati justru berkembang mengikuti perkembangan jaman. pertanyaannya siapa yang paling bertanggung jawab atas kelangsungan bahasa indonesia itu sendiri ???
  • setuju usul Admin.
    Kapan nih implementasinya? :)
  • lho justru saya liat bahasa indonesia sebagai salah satu bahasa palind dinamis didunia karena tidak tabu memasukkan bahasa-bahasa lain (asing & daerah) menjadi bahasa indonesia.
    Liahat saja bahasa inggris (british) salah satu bahasa tertua didunia yang asalnya adalah bahasa anglo saxon pada jaman modern ini masih memasukkan/menerima istilah dari bahasa perancis macam rsvp (pasti tau dong artinya kalo pernah diundang hajatan orang bule).
  • dundee menulis:
    Pentil kecakot ganol ganol . . . .
    Lucu sekali cara mengucapkannya :grin: :grin: :grin: :grin: :grin:
    ( Sambil ngakak aku nulisnya )
    Cicero...Cicero... Superman nya lucu ya :grin: :grin: :grin: :grin:

    Ini juga pernah dulunya diposting sama bang Cicero ini
    cicero menulis:
    Bahasa Indonesia dengan tidak bermaksud mengusik nasionalisme ternyata bahasa yang tidak lengkap alias banyak kurangnya. Tidak percaya, ini buktinya :
    Maju padanannya ke depan
    Mundur padanannya ke belakang
    Naik padanannya ke atas
    Turun padanannya ke bawah
    Masuk padanannya ke dalam
    Keluar padanannya ...........
    Apa coba? Tuh kan nggak lengkap.
    Saya sudah pernah mempertanyakan ini pada ahli bahasa kita dahulu JS Badudu, beliau hanya tersenyum... :D
    :confused: :confused: :confused: :confused: :confused: :confused:
    Bang Cicero emang pengamat bahasa ! ! :top:
    keluar = metu.....heheheh...
  • admin menulis:
    Baik.

    Kita akan segera buat aturan baru di FBI.
    Dan akan kita coba aplikasikan dalam beberapa Room.
    - Wajib menggunakan bahasa Indonesia dan bukan bahasa lain/singk..
    - Tentunya dibutuhkan referensi benar yg bisa kita koreksi bersama
    - Mohon share infonya referensi. Kalau mungkin kita pakai yg mana?
    - Dari kamus mana? JS. Badudu? WJS Poerwadarminta? Atau lainnya?

    Hukuman
    - Kalau ada kesalahan 1-3 kata bisa ditolerir,
    - Kalau ada lebih. Maka post yg bersangkutan berhak dihapus moderator
    - Kecuali berita atau post yg bersifat artikel (copy paste) - dimaklumi

    Pengecualian
    - bahasa yg dipakai dalam forum/link/atau kalau padanan katanya susah

    Tambahan
    - pendapat, saran dari rekan semua kita tunggu

    Salam :)

    NB: Mohon maaf, kalau bahasa saya diatas masih acak-adut campur2 :grin:
    Kapan realisasinya Pak Presiden?? Masih banyak postingan yang menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baku dan singkatan-singkatan yang tidak jelas artinya. Bagamana dengan kata-kata serapan dari bahasa asing. Contohnya : Posting diganti dengan apa??
  • hebat fbi, sampai bahasa indon pun di upayakan untuk ditegakkan dgn penggunaan kaidah yang benar, juga yang hot-hot tersedia bagi yang doyan, agama juga !, IT, kayaknya semua untuk kejayaan indonesia
  • memang emnyangkut bahasa serapan sulit sekali.
    malaysia saja yg sebenarnya mereka tidak punya bahasa asli, menelan mentah-mentah bahasa asing tersebut dan memakainya sbg bahasa serapan mereka.

    di Indonesia memang kasus lain, mungkin tugas Departemen Pendidikan yg harus memberikan pendidikan luas.

    Terutama media, adalah guru pertama kita. Koran, Majalah, TV harusnya mengawalinya. Minimal kita sudah pernah EYD. dsb.

    Ada solusi, mengenai bahasa serapan ini? Soalnya kalau terlalu lama semakin jauh, justru yg terkenal di luar negeri malahan bahasa melayu, dan bukan Indonesia :)
  • Bahasa itu sesuatu yang berkembang...
    Dan tidak dapat dipaksakan menyusut kembali....
  • Bos admin, saya pikir seperti yang tennang bilang, bahasa itu adalah sesuatu yang terus berkembang. Jadi untuk bahasa serapan, selama itu sulit dicari padanannya masih sah dipakai. Seperti halnya posting, kalau kita ganti dengan kirim atau diposkan malah jadi ganjil dan kurang pas...jadi lanjut terus penggunaan bahasa selama bersifat memperkaya (enrich, inggris). Salut buat admin dan personil FBI yang begitu peduli... :top: :top: :top:
  • Jadikan bahasa Indonesia menjadi tuan di negaranya sendiri.
  • masalahnya yang jadi menteri depdikbud bukan sosiolog en sastrawan tapi sarjana teknik dan sebagainya..harusnya saatrawan yang mengerti rasa bahasa dan berbahasa yang baik dan benar bukan cuma ngurusin ganti kurikulum tiap tahun dan terima duit dari penerbit buku....
  • Bhasa Indonesia adalah bahasa yang kaya... jadi bisa menyerap bahasa apa saja, asing, daerah, singkatan dlll... Miaslnya kata 'Uhhhhh' itu bisa jadi bahasa Indonesia kalau sering dikutip loh.. :grin: :grin: :grin:
  • jadi keputusannya ??... boleh pake bahasa indonesia yang ...mana?? :rolleyes: :rolleyes:
  • Marilah mulai sekarang, khusus di forum ini memakai bahasa yang benar (tanpa singkatan) :)
  • suatu waktu aku pernah bertemu dengan seorang turis mancanegara, begitu fasihnya ia berbahasa indonesia.
    turis itu mengatakan kalau bahasa indonesia itu merupakan bahsa yang paling gampang dicerna dan diaplikasikan.
    marilah kita mencintai bahasa kita, karena mereka di sana juga menyukai bahasa kita..
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori