Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Legenda “Babad Tanah Jawa”

babadtanahjawa_.jpg?w=151&h=187

OLEH: ARIEF TURATNO
ADA satu kisah menarik dalam petilan “Babad Tanah Jawa”. Meskipun kisah ini merupakan petilan. Namun intisari yang tertanam di dalamnya, ternyata tetap masih aktual di saat ini sekali pun. Ketika itu, datanglah para ulama dari “Sebrang Lautan” (Mesir) ke Tanah Jawa. Tujuan para ulama utusan Sultan Mesir itu adalah untuk menyebarkan agama Islam, yang menurut laporan masih banyak penduduk Jawa yang kafir. Para ulama itu dipimpin seorang Syeh yang bernama Syech Subakir Sebelum Syech Subakir datang, telah beberapa kali ulama pendahulunya menginjakan kakinya di Tanah Jawa. Namun, setiap kali mereka datang, selalu gagal menyebarkan agama Islam. Mengapa?

Pertanyaan itulah yang berada di benak Syech Subakir. Dan tidak berapa lama setelah sampai ke Tanah Jawa, Syech asal Persia (Iran) itu berhasil mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tersebut. Ternyata, seluruh Tanah Jawa dari ujung Timur sampai ke Barat di jaga oleh bangsa jin yang dipimpin Sabdo Palon. Kegagalan para ulama sebelumnya adalah karena ulah mereka, para jin kafir yang tidak mau masuk Islam dan menentang Islam berkembang di Tanah Jawa. Untungnya, Syech Subakir menguasai ilmu tentang makhluk halus, sehingga dia dan para ulama yang dipimpinnya berhasil mengetahui keberadaan para jin tersebut.

Dalam wujud kasarnya, para mahluk halus itu ada yang berujud ombak yang besar yang mampu menenggelamkan kapal berikut penumpangnya. Juga angin puting beliung, dan sebagainya yang mampu memporak-porandakan apa saja yang ada dihadapannya, termasuk menjelma menjadi hewan buas, harimau, ular dan sebangsanya. Perubahan bentuk dan ujud itulah yang selama ini diduga mencelakakan para ulama yang bermaksud menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Maka kemudian terjadilah pertempuran yang dasyat antara para jin pimpinan Sabdo Palon dengan pasukan ulama pimpinan Syech Subakir.

Konon, pertempuran itu terjadi selama berhasi-hari, tanpa ketahuan siapa yang bakal memenangkannya. Karena melihat situasi yang tidak menguntungkan, maka Sabdo Palon mengajukan usulan gencatan senjata. Syech Subakir yang melihat itu sebuah peluang, menerima ajakan Sabdo Palon. Maka terjadilah kesepakatan antara keduanya. Isi kesepakatan antara lain, Sabdo Palon memberi kesempatan kepada Syech Subakir beserta para ulama untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa, tetapi tidak boleh dengan cara paksaan atau memaksa.

Kemudian Sabdo Palon juga memberi kesempatan kepada orang Islam untuk berkuasa di Tanah Jawa—Raja-raja Islam—namun dengan catatan. Para Raja Islam itu silahkan berkuasa, namun jangan sampai meninggalkan adapt istiadat dan budaya yang ada. Silahkan kembangkan ajaran Islam sesuai dengan kitab yang dakuinya, tetapi biarlah adapt dan budaya berkembang sedemikian rupa. Dan yang terpenting, jadi pemimpin janganlah terlalu lurus, namun juga jangan terlampau bengkok. Hal ini sempat dipertanyakan Syech Subakir kepada Sabdo Palon, mengapa seorang pemimpin tidak boleh benar-benar lurus. Dijawab Sabdo Palon, karena pemimpin itu menjadi pimpinan semua orang. Dan orang tidak semuanya lurus, pasti banyak pula yang bengkok. Lha, orang yang bengkok-bengkok itu akan ikut siapa, bila pemimpinnya lurus?

Benar tidaknya legenda tersebut, itulah sebuah kisah yang konon pernah terjadi dalam petilan “Babad Tanah Jawa”. Karena itu tidak mengherankan, jika banyak Raja Jawa, meskipun beragama Islam, namun tetap mereka menjaga kelestarian kebudayaan leluhur, seperti nyepi dan sebagainya. Lantas apa hubungan semua ini dengan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi? Secara langsung tidak ada, tetapi kita berharap bagian dari kisah atau legenda ini dapat terserap oleh Mendagri Gamawan. Mengapa? Karena ada beberapa aspek penting yang harus diketahui, dan perlu ditelaah. Beberapa waktu yang lalu, Gamawan membuat kejutan dengan kebijakan penghentian semua upah pungut. Kabarnya, usulan penghentian tersebut berasal dari usulan pejabat di lingkungan eselon II Depdagri. (JP/KN)

Komentar

  • Usulan itu mungkin bagus, jika ditinjau dari satu sisi. Namun ditinjau dari sisi lainnya, mestinya Mendagri perlu mengkaji lebih dulu. Apakah memang harus begitu, atau perlu cara lain yang lebih bermanfaat dan dapat diterima semua pihak. Sebab apa artinya, jika kebijakan itu sudah “dibunyikan” pada kenyataannya tidak dapat dipraktekan, karena banyak hal yang menghambat. Misalnya, ada seorang pembantu yang digaji pas-pasan, sementara si majikan meminta dia membeli makanan atau barang lain yang tempatnya cukup jauh tanpa memberi uang saku. Mungkinkah pembantu tadi akan melaksanakan perintah tersebut? Jawabnya ada beberapa kemungkinan, Pertama, jika dia adalah seorang pembantu yang bodoh dan patuh, pasti mau. Karena orang semacam ini tidak memperhitungkan untung rugi yang ada hanyalah kepatuhan. Pertanyaannya adalah mungkinkah semua orang akan berlaku seperti pembantu tadi?

    Kedua, mungkin perintah tadi dilaksanakan sang pembantu, tetapi tidak dibelikan sebagaimana yang diminta sang majikan. Sebab kalau sesuai dengan perintah, maka mau atau tidak dia harus rugi mengeluarkan biaya untuk transportasi dan sebagainya. Sementara gaji yang diterima pas-pasan. Ketiga, mungkin tidak dilaksanakan, dengan resiko dimarahi, atau mungkin pula dilaksanakan dengan diberikan barang tiruan atau palsu. Pertanyaannya adalah apakah ini yang kita inginkan? Di banding departemen lain, Departemen Dalam Negeri (Depdagri) adalah yang paling belakang melakukan numerisasi. Mungkin untuk departeman lain, misalnya Depkeu, Menkeu dapat berlaku sebagaimana yang dilakukan Gamawan Fauzi. Karena gaji terendah karyawan Depkue tiga kali gaji karyawan terendah di Depdagri. Persoalan macam inilah apakah sudah dipahami atau belum?

    Sabdo Palon mengatakan, pemimpin tidak mungkin lurus benar, juga tidaklah boleh bengkok-bengkok amat. Ini artinya, seorang pemimpin, termasuk Mendagri harus memahami situasi, mengerti sikap batin para karyawannya. Jika ini benar-benar dipahami dan dimengerti, maka kita yakin Gamawan Fauzi akan mendapat dukungan dari seluruh karyawan. Namun, jika tindakannya terlihat aneh dan dianggap tidak memahami sikap batin bawahannya. Maka jangan salahkan jika nantinya ditinggalkan para anak buahnya, dan itu jangan salahkan kepada karyawan. Hal-hal semacam inilah yang mesti diperhatikan, karena dengarlah kata semua orang, dan ambilah yang terbaik. Akhirnya, semoga sukses!
  • Saya sudah baca ini dari mulai kelas 1 SD ndan dan memang isinya sangat-sangat real dengan keadaan jaman dulu hingga sekarang
  • Nice info.
    Pada kenyataannya adanya pertempuran itu terjadi antara manusia sejati dengan para setan (jin kafir), dan itu terjadi terus menerus.
    Persyaratan jin kafir bahwa seorang pemimpin janganlah terlalu lurus, namun juga jangan terlampau bengkok, mestinya dikelola sehingga menjadi benar-benar lurus. Kalau tidak, ya seperti ini, Indonesia, mayoritas beragama Islam tetapi KKN membudaya.
  • Banyak kisah dari Babad Tanah Jawa yang hanya merupakan mitos untuk memperkuat/melegitimasi dan melanggengkan kekuasan penguasa pada waktu itu, seperti cerita pernikahan Panembahan Senopati dan Nyi Ratu Kidul.
  • :think:
    Buktinya mereka adalah jin kafir dari mana.... :confused:
  • konon tumbal yang ditaruh/ditanam syeikhh subakir untuk melindungi nusantara sudah dibobol maling untuk dikiloin sehingga tanah jawa dan nusantara jin2xnya sudah lepas dan bebas :D :cool:
  • bener ndan dah banayk yang dicabut mustika-mustika nya....so jd banyak bencana akhir-akhir ini
  • zimbad menulis:
    bener ndan dah banayk yang dicabut mustika-mustika nya....so jd banyak bencana akhir-akhir ini

    ah itu kan cuma perasaan dik zimbad aja :blah:
  • Kayanya Cerita diatas cuman hayalan saja.Karena Jaman dulu orang jawa itu bukan kafir tapi ramah tamah. Justru yang kafir itu ada di timur tengah. kenapa...? karena ceita islam nabi itu pasti turunya disana Engga di pulau jawa. Jawa berasal dari kata jaya duwipa yang artinya tanah surga. Jaya dwipa itu tempat bersemayamnya para dewa. untuk lebih jelasnya silakan kita lihat ceita wayang.....
  • setahu saya itu sabdo palon itu kiasan saja kok, bukan dalam arti sebenarnya.
  • ijin save buat di baca kapan2...

    :top:
  • Kata kafir itu kan di gunakan orang islam untuk mereka yang di luar islam.Sedangkan islam agama baru tanpa budaya asli.Sebagai contohnya adalah musik rebana,sebenarnya itu adalah budaya orang jahiliah.Ketika kalah perang kaum islam mengambil semua termasuk budaya dan mematenkan kebiasaan orang jahiliah dengan hak patennya islam.Makanya orang lebih suka mendengarkan musik keroncong dengan syair jawa daripada hadrah dengan syair bahasa arab.
  • beny_pongo menulis:
    Kata kafir itu kan di gunakan orang islam untuk mereka yang di luar islam.Sedangkan islam agama baru tanpa budaya asli.Sebagai contohnya adalah musik rebana,sebenarnya itu adalah budaya orang jahiliah.Ketika kalah perang kaum islam mengambil semua termasuk budaya dan mematenkan kebiasaan orang jahiliah dengan hak patennya islam.Makanya orang lebih suka mendengarkan musik keroncong dengan syair jawa daripada hadrah dengan syair bahasa arab.

    Islam gak pernah mengakui rebana atau segal jenis musiek itu adalah Budaya Islam
    Islam punya budaya tersendiri
    Ingat Islam membawa budaya tersendiri
    sangat jelas itu.

    bahkan bagi Islam musik itu adalah dari syetan
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori

Penawaran Terbatas

Booking.com
Liburan di ratusan ribu destinasi & puluhan ribu akomodasi di 200+ lebih negara seluruh dunia. Tentu saja dengan harga promo khusus dan terjangkau kantong anda. Silahkan coba cari dan temukan impian liburan atau akomodasi untuk bisnis anda!