Contact Us

10 Fakta yang Perlu Diketahui Tentang Polio!

:D :D :D :D

10 Fakta yang Perlu Diketahui Tentang Polio!


Penyakit polio lebih perlu ditakuti dibanding campak (measles), TBC, batuk rejan, bahkan difteria sekalipun.
Mengapa?
Karena bila tergolong berat, polio berpotensi menyisakan kecacatan fisik seumur hidup.
Berikut ini 10 hal yang perlu diketahui untuk mencegah serangan polio:
1. Polio penyakit semua umur
Polio bisa menimpa semua kelompok umur. Umumnya balita. Sampai berumur 6 bulan, tubuh bayi umumnya masih memiliki kekebalan pasif dari ibu selama ia di kandungan. Namun, kekebalan itu berangsur-angsur menurun. Maka vaksinasi polio dianjurkan dipersiapkan sejak dini.
Imunisasi polio dianggap lengkap selelah bayi berumur 1 tahun, atau setelah empat kali pemberian tetesan vaksin polio, dengan harapan pada tubuh bayi sudah membentuk kekebalan (antibodi) terhadap virus polio.
Kasus merebaknya polio liar (dari Afrika) di Sukbumi, bisa jadi karena dua hal. Pertama, diduga virus polio terbawa oleh kembalinya sejumlah penduduk Sukabumi konon dari Sudan, Nigeria, atau negara Afrika lain, di wilayah polio masih berjangkit. Si pembawa virus belum tentu sakit atau tampak sakit polio (sebut saja sebagai carrier). Virus polio mungkin masih berada di tenggorokan dan tinja si pembawa virus yang diperolehnya selama berada di negara Afrika.
Kedua, balita di daerah yang didatangi pembawa virus polio tersebut belum kebal polio. Mungkin sama sekali belum diimunisasi, belum lengkap, atau belum diulang lagi. Terbukti, yang terjangkit memang balita yang belum diimunisasi.

2. Terserang virus polio belum tentu akan lumpuh
Ya, tidak semua yang diserang virus polio pasti akan memunculkan gejala penyakit polio. Yang tampak sakit polio pun tidak juga selalu tampil sebagai kelumpuhan. Kemungkinan perjalanan penyakitnya bisa dua, dengan gejala ringan saja tanpa kelumpuhan (asymptomatic, abortive, pre-paralytic) atau dengan gejala kelumpuhan (paralytic).
Yang gejala penyakitnya tanpa kelumpuhan bisa bersifat sangat ringan, nyaris tanpa gejala khas, dan hanya seperti gejala penyakit virus umumnya (flu-like symptom), dan umumnya akan menyembuh sendiri. Kasus begini umumnya berlalu begitu saja.
Bila penyakitnya berlangsung lebih berat, selain gejala umum infeksi virus, seperti demam, nyeri kepala, disertai dengan nyeri otot, khususnya mengenai otot anggota gerak. Sering-sering anak minta tungkai, lengan, atau kakinya dipijati kalau malam hari.
Apabila pemeriksaan neurologis dilakukan pada kasus ini, akan menunjukkan adanya kelainan dalam refleks-refleks kepada persangkaan polio.
Apabila serangan penyakitnya lebih berat lagi, selain gejala umum virus, biasanya disertai pula dengan gejala “kaku kuduk” (batang leher terasa kaku bila dokter menekuk-nekukkannya); tampak pula ada gangguan dalam menopang kepala, sehingga kepala terjatuh setiap kali anak dalam posisi didudukkan. Bila dilakukan pemeriksaan neurologis di sini, akan lebih memperlihatkan dugaan polio.
Kepastian bahwa kedua kasus di atas itu benar polio, diperoleh dari pemeriksaan cairan otak (liquor cerebrospinalis), yang diambil dokter dengan menyedotnya dari sumsum tulang belakang. Cara lain dengan membiak virus dari sediaan apus tenggorok atau tinja.
Jadi, tidak ditemukannya pasien lumpuh polio di suatu wilayah, belum berarti wilayah tersebut bebas polio. WHO memperkirakan bila ditemukan satu kasus polio (positif), kemungkinan sudah ada 200-an orang di sekitarnya yang membawa virus polio dan orangnya belum tentu sakit.
Belum munculnya gejala polio pada pembawa virus polio yang mungkin kelihatan sehat, bisa jadi lantaran perjalanan penyakit di dalam tubuhnya belum selesai dan masih sedang berlangsung (inkubasi sampai 2 minggu).
3. Gejala kelumpuhan belum tentu selalu polio
Kelumpuhan pada anak belum tentu harus polio penyebabnya. Acute flaccid paralytic atau penyakit kelumpuhan pada kedua tungkai yang disertai gangguan mental (kelumpuhan polio biasanya simetris kiri dan kanan, perasa (sensorik) normal, dan tanpa disertai gangguan mental).
Penyakit Guillain-Barre juga menampakkan kelumpuhan kedua tungkai, namun disertai gangguan sensorik, sedangkan kasus kelumpuhan separuh tubuh sebab acute infantile homiplegia (banyak faktor penyebab kerusakan jaringan otak, seperti trauma, infeksi, epilepsi, kelainan pembuluh darah otak, penyakit jantung); dan semua anak dengan cerebral palsy, yakni kerusakan jaringan otak, yang bisa tenjadi sejak lahir, sekitar persalinan, atau setelah lahir, dengan kecacatan menetap berupa kelumpuhan, gangguan pergerakan, sikap tubuh, disertai gangguan mental.
Untuk memastikan bahwa suatu kelumpuhan betul kasus polio, selain bisa dibedakan secara klinis, dapat dilakukan pemeriksaan biakan apus tenggorok atau tinja yang diambil dari yang disangka polio.
4. Kekebalan polio seumur hidup
Betul, kekebalan alami sehabis terjangkit polio berlangsung seumur hidup. Sebaliknya, kekebalan buatan yang terbentuk oleh imunisasi hanya bertahan beberapa tahun. Itu sebab vaksinasi polio perlu diulangi sebelum anak berumur 2 tahun dan menjelang masuk sekolah (4-6 tahunan).
5. Tidak berbahaya kendati imunisasi diberikan lagi
Kita menyadari bahwa cakupan imunisasi (UCI) polio kita belum mencapai target. Polio liar berjangkit pada anak-anak yang memang belum terjangkau imunisasi. Bisa jadi, dalam melakukan imunisasi massal setempat (wilayah terjangkit) atau mopping- up, ada anak yang mendapatkan vaksinasi kembali (ulangan) yang mungkin belum tentu diperlukan. Namun, tak mengapa, selama kondisi fisiknya tidak sedang sakit (salah satu persyaratan imunisasi), pemberian vaksin yang berlebihan (tanpa disengaja), di wilayah terjangkit, tidak menimbulkan efek buruk
6. Masih mungkin kena polio mekipun sudah imunisasi
Ya, seperti halnya imunisasi lain, anak yang sudah diimunisasi polio pun masih berpeluang untuk kena polio lagi. Kemungkinan lantaran kekebalan yang terbentuk kurang memadai sebab sistem pengebal tubuh anak yang lemah, atau kualitas vaksinnya sendiri sudah lemah, rusak, atau tidak poten lagi (akibat buruknya sistem cold-chain, yakni sistem rantai-dingin mulai dari transportasi, distribusi, dan penyimpanan, serta cara membawa vaksinnya sampai ke sasaran tidak pada suhu rendah yang dianjurkan).
7. Kelumpuhn polio tidak dapat dicegah
Ya, perjalanan penyakit polio ditentukan pula oleh jenis virusnya, apakah tipe yang ganas (tipe 1) ataukah yang jinak. Virus polio ganas dan menyerang anak yang lemah kekebalan tubuhnya terhadap polio, tentu perjalanan penyakitnya akan lebih buruk dibanding bila virusnya tipe jinak, dan anak lebih bagus sistem kekebalan tubuhnya.
8. Penularan virus melalui tinja-mulut
Ya, virus polio berada di alam bebas yang berasal dan tinja penderita. Virus mampu bertahan di lingkungan yang lembab, basah, dan kotor, hanya mati oleh bahan kimia formaldehida atau cairan chlor, namun tahan terhadap alkohol, lisol, dan suhu rendah (es krim, es, dan suhu lemari es). Virus juga bertahan lama dalam air limbah, air permukaan, bahkan bisa mengalir sampai sejauh berkilometer dari sumber penularan.
Virus polio awalnya juga berada di kelenjar amandel (tonsil) dan kelenjar tetangganya (adenoid) di dalam rongga mulut. Itu berarti penularan dan mulut ke mulut secara teoretis memungkinkan terjadi, kendati tidak lazim.
9. Orang, dewasa umumnya tidak kena polio
Kecil kemungkinan orang dewasa terkena polio. Mungkin betul membawa virus polio di tubuhnya (tenggorokan, usus, tinja), namun tidak sampai sakit, apalagi melumpuhkan. Kelumpuhan pada orang dewasa lebih mungkin disebabkan oleh infeksi otak atau selaput otak (encephalitis atau meningitis), selain kelumpuhan separuh tubuh (stroke).
10. Selagi berjangkit polio, tidak cabut gigi, operasi amandel, atau disuntik
Ya, kasus habis disuntik lumpuh, boleh jadi pada saat dilakukan penyuntikan, kondisi si anak sedang dalam perjalanan penyakit polio, saat virus sedang berada dan berbiak di dalam tubuh si anak. Pihak awam menuduh polio terjadi akibat suntikan. Padahal, disuntik atau tidak, polionya sudah akan muncul juga.
Kita tahu, setiap tindakan traumatik, apakah suntikan, operasi, atau cabut gigi, akan memicu bangkitnya serangan polio dalam bentuk kelumpuhan. Sebaiknya, selagi sedang berjangkit polio, anak-anak dan siapa saja di wilayah tersebut menunda setiap tindakan traumatik. Sebab kita tidak tahu apakah di tubuh yang akan ditindak itu sedang berlangsung proses infeksi polio ataukah tidak.

Komentar

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori